KESATU.CO, SUKABUMI – Kasepuhan Adat Ciptamulya kembali menggelar tradisi Seren Taun ke-447 di Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Tradisi yang telah berlangsung selama hampir lima abad itu menjadi penanda kuat bahwa nilai-nilai adat dan budaya masih hidup di tengah arus modernisasi.
Seren Taun merupakan puncak ungkapan syukur masyarakat adat atas hasil panen yang diperoleh selama setahun. Prosesi diawali dengan ritual Ampih Pare ka Leuit, yakni menyimpan padi ke lumbung adat sebagai simbol penghormatan terhadap hasil bumi sekaligus komitmen menjaga cadangan pangan masyarakat.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan saresehan adat, arak-arakan rengkong, hingga pertunjukan seni tradisional seperti Dog-dog Lojor, Wayang Golek, Jaipongan, Debus, Kidung Buhun, Seni Laes, Tunggulan Lisung, dan Angklung. Seluruh rangkaian acara menjadi magnet bagi masyarakat yang memadati kawasan kampung adat.
Camat Cisolok, Okih Pazri Assidiq, mengatakan Seren Taun bukan hanya warisan budaya, tetapi juga aset daerah yang memiliki nilai sosial, sejarah, dan ekonomi.
“Seren Taun merupakan identitas budaya masyarakat adat yang mengandung nilai gotong royong, kebersamaan, dan rasa syukur. Tradisi ini memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata budaya yang mampu mengangkat kearifan lokal Cisolok,” ujarnya.
Menurut Okih, Pemerintah Kabupaten Sukabumi melalui Pemerintah Kecamatan Cisolok akan terus mendukung pelestarian tradisi adat agar tetap lestari sekaligus berkembang menjadi destinasi wisata budaya yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.
Sementara itu, Sesepuh Adat Kasepuhan Ciptamulya, Abah Hendrik Suhendrik Wijaya, menyampaikan rasa syukur karena hasil panen tahun ini dinilai cukup baik sehingga Seren Taun dapat kembali dilaksanakan dengan penuh suka cita.
Ia juga mengapresiasi dukungan pemerintah, termasuk bantuan pembangunan leuit dari Dinas Ketahanan Pangan untuk tiga kasepuhan di Desa Sirnaresmi. Menurutnya, leuit tidak hanya menjadi simbol adat, tetapi juga bagian penting dari sistem ketahanan pangan masyarakat kasepuhan.
“Seren Taun adalah momentum untuk mensyukuri nikmat panen, memperkuat persatuan masyarakat adat, sekaligus memastikan nilai-nilai budaya leluhur tetap terjaga dan diwariskan kepada generasi mendatang,” kata Abah Hendrik.
