• Kamis, 18 Agustus 2022

Menjadi Guru Peradaban, Pelopor Perubahan

- Rabu, 27 Oktober 2021 | 18:36 WIB
Screenshot_2021-10-27-15-41-13-22_a27b88515698e5a58d06d430da63049d
Screenshot_2021-10-27-15-41-13-22_a27b88515698e5a58d06d430da63049d

KESATUCO. Dies Natalis ke-67 UPI yang digelar secara daring dan luring pada Kamis (21/10/2021) lalu berlangsung dengan penuh makna. Semua bersyukur, sudah 67 tahun UPI menunjukkan jati dirinya sebagai pelopor perubahan dalam bidang pendidikan.

Terbukti bagaimana UPI telah mencetak banyak tenaga pendidik dan peserta didik yang berkualitas dan profesional. Sehingga, kebermanfaatannya sangat terasa untuk kemajuan pendidikan di Indonesia.

Walau tidak semua prodi di UPI adalah pendidikan, adanya mahasiswa kesehatan dan teknik pun mendapatkan nilai plus karena kebermanfaatannya di masyarakat. Artinya, adanya UPI yaitu sebagai wadah untuk belajar dan tempat membentuk karakter seseorang agar menjadi pelopor perubahan ke arah lebih baik.

Seperti yang tertulis dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, seluruh civitas akademika harus melaksanakan pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian kepada kemasyarakat yang bertujuan untuk kemajuan bersama dalam beberapa sektor dalam kehidupan.

Kembali pada bidang pendidikan, saat ini pendidikan di Indonesia mengalami gejala disrupsi karena adanya perubahan teknis dalam pembelajaran. Tantangan zaman semakin maju dan teknologi digital semakin menjadi kekuatan dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu, pendidik juga harus belajar sepanjang hayat, salah satunya dengan mempelajari teknologi digital.

Pendidik abad ke-21 tidak hanya sebatas mengajar di kelas tetapi juga melahirkan pemikiran maju dan kreatif untuk mendorong sistem pendidikan dan pembelajaran yang semakin fleksibel untuk berselancar dalam dinamika perubahan.

Integrasi digital sangatlah fundamental dalam mewujudkan pendidikan pada abad ke-21. Integrasi digital bukan hanya sekadar menambahkan teknologi ke dalam pembelajaran, tetapi harus digunakan secara integratif melalui pelibatan peserta didik dalam bekerjanya teknologi itu sendiri.

Oleh karena itu, dari pada mengajarkan mereka menggunakan suatu aplikasi atau program tertentu, pendidik sebaiknya memfasilitasi dan mendorong peserta didik untuk mencoba dan menemukan sendiri kecakapan yang ingin mereka pelajari. Dari sinilah tumbuh peserta didik yang kreatif, inovatif, mampu berpikir kreatif, dapat memecahkan masalah dengan baik, dan dapat berkolaborasi dengan baik.

Banyak peserta didik yang stres karena pendidik hanya menyiapkan daftar panjang pengetahuan yang telah usang. Cara mengajar seperti ini tidak lagi relevan, karena peserta didik pada kenyataannya mampu belajar dan lebih cepat memahami ketimbang pendidiknya.

Pendidik abad ke-21 harus lebih berfungsi sebagai pembimbing atau mentor untuk peserta didiknya, dan bukan sebagai orang yang mengetahui segalanya dan memberi seluruh pengetahuan kepada mereka. Sebagai digital native mereka beberapa langkah lebih cepat dalam pemahaman teknologi, ketimbang pendidik yang umumnya digital immigrant.

Dalam abad ke-21, pendidik hendaknya lebih berfungsi sebagai fasilitator, motivator, dan performance applauder bagi peserta didiknya. Sesuai dengan fungsi-fungsi tersebut tugas pendidik adalah mengarahkan anak didiknya untuk kegiatan belajar sesuai standar dan kurikulum.

Di antaranya seperti mengarahkan ruang lingkup pembelajaran, membuat batasan konteks pembelajaran, mengecek kemajuan belajar, serta meningkatkan motivasi dan percaya diri peserta didik agar mencapai hasil belajarnya.

Guru juga harus mampu belajar bersama dengan para siswa selama proses pembelajaran berlangsung sehingga tercipta suatu sinergi belajar. Ini menjadi tantangan yang paling menarik bagi Kemendikbud-Ristek dan UPI adalah mengubah mindset calon-calon guru dari fungsinya sebagai pengajar, menjadi pemimpin dan pengelola belajar siswa agar tetap menjadi pelopor perubahan. (Rektor UPI, Prof. Dr. M. Solehuddin, M.Pd., M.A.)

Pada UPI kampus Purwakarta sendiri sudah ada prodi yang memfokuskan pada pembelajaran teknologi dan digital. Bahkan kami mahasiswa prodi PGSD ikut mempelajari teknologi dan digital sebagai alat, bahan, dan sumber pembelajaran.

Pembelajaran dapat disinergikan antara penggunaan teknologi digital dan materi keguruan di Sekolah Dasar. Alhamdulillah penulis mendapatkan kesempatan untuk belajar dan menghasilkan produk dari pembelajaran koding, multirealita, dan robotik untuk sekolah dasar.

Pada acara Dies Natalis UPI ke-67, juga diadakan beberapa lomba serta pemberian penghargaan kepada pemenang lomba. Salah satunya yaitu yang dimenangkan oleh dosen mata kuliah kami Robotik di Sekolah Dasar, bapak Syaiful Fuad, S.Pd., M.T. sebagai peringkat ketiga kategori inovasi nonpendidikan. Selamat untuk dosen kami, baarakallaah atas ilmu dan capaiannya, semoga semakin bermanfaat untuk banyak orang.(*)

Penulis: Vina Deviana Savira/Mahasiswa UPI Kampus Purwakarta

Editor: Kesatu

Terkini

Nasib Baik Berpihak ke Pak Nasib

Sabtu, 15 Januari 2022 | 22:27 WIB

Menjadi Guru Peradaban, Pelopor Perubahan

Rabu, 27 Oktober 2021 | 18:36 WIB

Buruh Mogok Gara-Gara Anies? Koplak!

Rabu, 7 Oktober 2020 | 15:29 WIB
X